A Tale of Informed Consent

Assalamualaikum Wr.Wb

https://kanal24.co.id/read/covid-19-dan-fitnah-akhir-zaman

Tentang sisa-sisa kehidupan yang ada. Masa kaliyuga, katanya. Saat dunia diisi kekacauan. Diisi oleh kepintaran yang menipu. Diisi oleh pseudo sains. Terjerembab dalam waktu. Kebodohan yang merajalela. Sistem rusak yang telah mengakar. Lalu, ada cerita. Tentang sisi-sisi kehidupan yang lain. Yang kuketahui. Terima kasih, untuk para pemimpin. Yang memilih berbeda. Yang memilih tuk melindungi masyarakatnya. Yang memilih untuk berdiri, memegang teguh kebenaran. Meskipun dunia jahat merenggutnya kembali, mungkin dengan cara yang tak pantas. Untuk kehidupan yang kulihat dari jauh. Lengkap dengan kacamata kelogisan yang selama ini ada. Tersisa tak bertepi. (Bait I)

Kepada-Mu, arus hidupku menganga. Mengalir bersama buaian gemercik di sepanjang sungai. Menjembatani gemertak ketakutan, kecemasan dan kelaparan di tengah yang lain. Tuhan, aku melihat kebodohan. Aku melihat dogma yang tidak disadari. Aku melihat, semua orang terjebak. Terjebak pada kebodohan. Terjebak pada sistem yang salah. Mudah termakan ruang bertabung dan ruang dunia tidak offline. (Bait II)

Kepada-Mu, aku menggantungkan hidup. Di tengah masa masa terakhir. Menuju zaman baru. Tanpa kebiadaban para elit-elit global penyembah setan. Tolonglah, anak-anak itu! Selamatkan mereka dari kekejaman. Kekejaman para manusia tak bernurani. Maniak darah mereka. Pecinta pedofilia, dan fans berat LGBTQ. Penghianat bangsa. Pengobrak abrik sistem kehidupan yang ada. (Bait III)

Kepada-Mu, aku menggantungkan hidup. Segala urusan hidup dan matiku. Hanya kepada-Mu, aku memohon. Melihat begitu banyaknya kebiadaban. Mata manusia yang polos dan tak sanggup melihat. Tanpa menggunakan kejernihan dan kedalaman berpikir. Maka, hanya kepada-Mu, aku meletakkan tanganku. Linangan air mata yang tak berhenti. Munculnya fear mongering, perang asimetris, perang informasi beserta misinformasi dan disinformasi, mafia anggaran, mafia obat, medical representatives, model brand ambassador plandemi dan dunia positif. Juga tentang perang psikologis, operasi intelijen, cipta kondisi dan mind control. Juga tentang mereka, para ahli yang sejatinya tak mampu melihat kebenaran. Karena tertutup mata oleh Dajjal. Fitnah Dajjal. Fitnah Dhuhaima. Terkait juga, dengan kecerdikan para kancil berkerah. Yang telah mengetahui ini sejak lama. Begitu pula, para anggota Mason lokal dan internasional, yang berupaya menengahi. Melihat banyaknya, begitu banyaknya elit elit jahat global dan para anteknya sedunia beraksi. Memainkan pikiran dan perasaan manusia. Mereka semua yang mengendalikan di berbagai lini.(Bait IV)

Kepada-Mu, aku melihat, melihat semua kemunafikan manusia. Yang telah cukup menjadi satu. Kapankah era baru itu tanpa sistem buatan Dajjal? Tanpa adanya elit-elit global penyembah setan. Imajiku menari. Bermain dalam setiap jari dan batin. Ada berapa banyak tangis, di tengah masa masa sulit ini? Sudahkah mereka menahan tangis kelaparan hari ini? Sudahkah mereka menahan tangis lagi, pagi ini? Hanya sedikit, aku mampu bergerak. Dengan ucapanku. Dengan jemariku, menguntai kata. Dengan menyatukan energi dalam kalam Ilahi. Bahkan, dengan segala lemah dan salahku, sebagai manusia, haruskah melihat pembunuhan berencana dari efek samping obat, racun dan interaksi obat? Seperti ini? Sungguh, sebuah masa kegelapan. (Bait V)

Sebuah masa kegelapan. Sejak tahun lalu. Wahai arwah Kary Mullis, anda pasti menyesal melihat ini semua. Miris dan tak mampu menahan amarah, mungkin. (Bait VI)

Hanya kepada-Mu, aku berlindung. Dari kejamnya fitnah dunia, fitnah plandemi, fitnah manusia, fitnah konspirasi global, cairan racun, tes tak bermanfaat dan efek samping obat. Maka, bisakah kau selamatkan aku beserta keluarga inti dan keluarga besarku? Yang teramat kurindukan hingga detik ini. Izinkanlah segala kesyahidan manusia di sana, di masa ini, mengisi relung keheningan yang lain. Aku, mencintai keheningan. Jika waktuku ini berhenti, lepaskan aku, dalam kemudahan. Kemudahan meletakkan nafasku. (Bait VII)

Ini, tentang cerita. Kehidupan yang akan dihabisi. Dalam agenda depopulasi global, Agenda 21. Salam kejahatan untuk beberapa dari organisasi berbisa dan selamat terjebak pada dunia farmasi. (Penutup)

Mereka lupa, dengan Permenkes No 413/2020, Informed Consent, UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 5 ayat 3 dan Universal Declaration on Bioethics and Human Rights Pasal 6 ayat 1.

=========

Behind The Poem-

Bait I : Masa kegelapan ini, ada yang menganggap sebagai masa kaliyuga dimana banyak kebodohan dan pseudosains. Beberapa pemimpin dunia sangat saya kagumi yaitu yang menolak vaksin(Pemimpin Haiti), menolak plandemi(Pemimpin Belarus) bahkan ada yang dibunuh karena membuktikan alat tes covid yang tak berguna(Pemimpin Tanzania). Paragraf ini berisi rasa terimakasih saya sebagai manusia yang bangga melihat pemimpin yang berjuang menegakkan kebenaran dan melindungi masyarakatnya disana.

Bait II : Sedang ada banyak sekali masyarakat dunia yang takut, cemas dan kelaparan di tengah berbagai pembatasan di hampir seluruh negara. Mempercayai covid sudah seperti dogma. Manusia mudah sekali mempercayai apa yang disebutkan dalam ruang bertabung yaitu acara berita TV tentang covid-19 dan yang disebarkan di ruang tidak offline yaitu ruang online atau dunia maya/dunia media sosial.

Bait III : Anak-anak yang perlu ditolong adalah anak-anak korban kids trafficking yang nanti dapat dikorbankan sebagai korban persembahan ritual pada setan. Mereka juga bisa menjadi korban pedofilia atau LGBTQ. Dunia baru yang diharapkan adalah dunia tanpa elit-elit global penyembah setan yang meminum darah anak/bayi.

Bait IV: Banyak manusia yang tidak melihat yang tersirat dan mudah percaya media mainstream dan media sosial. Karena tertutup fitnah dajjal atau mungkin fitnah dhuhaima. Banyak kebiadaban yang dilakukan manusia termasuk meresepkan obat keras yang menyebabkan pasien sesak nafas dan membutuhkan tabung oksigen. Banyak pasien akhirnya membutuhkan obat antivirus mahal seperti gamaraas, memakai ventilator, menerima plasma konvalens dan meninggal. Para ahli yang disebut dokter, epidemiologis dan lainnya sejatinya tak mampu melihat kebenaran atau sengaja disetting agar masyarakat meyakini covid.

Bait V : Saya melihat banyak sekali kemunafikan manusia, mulai dari pegawai di tempat saya bekerja sampai politisi, pemuka agama hingga media. Tangis kelaparan mungkin ada lebih banyak di luar sana dari mereka yang bangkrut dan mendapat pemotongan gaji bahkan tanpa pemasukan sekalipun. Tangis lainnya mungkin berisi kebingungan cara mencicil hutangnya dan tangis rindu melihat kematian anggota keluarganya di tengah masa plandemi ini. Mencegah kemungkaran dalam hadits islam sudah saya lakukan dengan ucapan yaitu menyampaikan ke pegawai lain, rekan kerja lain, sahabat dan teman di luar kantor bahkan luar provinsi. Sudah juga melalui tulisan di blog ini. Saya juga berupaya mengirimkan energi baik dari ibadah saya yang hening untuk melawan fitnah covid.

Bait VI : Masa yang dimaksud adalah masa plandemi Covid-19. Kary Mullis adalah penemu RT PCR yang menyebutkan bahwa alat temuannya tidak dapat mendeteksi virus.

Bait VI : Adalah kepasrahan diri untuk berlindung pada Allah SWT agar saya, keluarga inti dan keluarga besar dijauhkan dari fitnah plandemi. Lepaskan aku, dalam kemudahan , artinya adalah keinginan untuk meninggal khusnul khatimah. Yaitu meninggal dengan penarikan nyawa yang mudah, cepat dan tidak terasa sakit.

Penutup : Agenda 21 adalah rencana depopulasi global atau pemusnahan manusia agar mengurangi mereka sesuai dengan yang tertulis di Georgia Guidestone, termasuk melalui plandemi Covid-19, seluruh dunia. Cara mengurangi populasi tersebut termasuk melalui vaksin mematikan yaitu vaksin mRNA atau keracunan obat akibat interaksi antar obat. Beberapa dari Organisasi berbisa adalah mafia/beberapa pihak yang mengambil keuntungan dari organisasi terkait medis. Manusia sejatinya terjebak pada efek negatif/efek samping pengobatan medis melalui obat-obatan/industri farmasi.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s